Archive for May, 2007

sekaranglah saatnya…

Thursday, May 31st, 2007

Yups, saatnya sudah tiba. Aku harus pergi dari Jogja. Sebenarnya bukan hal begitu luar biasa memang, tapi entah kenapa setiap kali aku pergi dari Jogja barang sehari atau dua hari, selalu ada rasa rindu hebat yang menghinggap. Rasa rindu inilah yang selalu memaksaku untuk selalu pulang ke Jogja. Iya, memang sebagian besar waktu hidupku dihabiskan di kota ini. Teman-teman dan keluarga, hampir semuanya ada di Jogja…
Kali ini aku harus pergi. Lama lagi. Tapi suatu saat aku ingin kembali. Entah kapan…
Eh iya, kemarin salah seorang teman datang ke rumah. Nggak seperti biasa kalo kita ketemu, pasti akan langsung tertuju pada satu tempat: Sonique Play Station. Kali ini tidak. Kita hanya ngobrol di kamar tamu. Kami mereview masa-masa dulu awal pertemanan. Masa gila di SMU, masa kuliah, kumpul di organisasi, membentuk tim sepakbola, menggiatkan komunitas-komunitas, juga mengenang saat-saat piknik bareng kawan-kawan. Indah memang, dan setiap kali crita selesai aku akan selalu bilang: "koq waktu begitu cepat berlalu ya Yos…"
Yach, memang begitulah adanya. Dulu aku melihat satu per satu teman pergi. Ada yang pulang kampung pasca lulus kuliah, ada yang dapat kerjaan, ada yang musti dikawinin oleh ortunya (hahaha…). Kali ini aku yang harus pergi, dan ironisnya aku musti pergi dari kampung halaman dan tanah kelahiran demi mencari sesuap nasi di tanah orang. Hehehe, terlalu hiperbolis aku menyebutnya. Tapi memang beginilah adalah. Rejeki memang Dia yang mengatur. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan berdoa. InsyaAllah rejeki itu akan menjadi berkah.
Selamat tinggal Jogja. Suatu saat aku akan kembali menyapamu, dan menikmati senja yang indah di sudut kota Jogja…

4 hari lagi…

Sunday, May 27th, 2007

Kemarin aku ziarah ke pusara eyang di
Tambakrejo Purworejo, sebuah desa yang terletak di tepian kali Bogowonto.
Hamparan nisan sebagai penanda tempat peristirahatan terakhir manusia ini
begitu tenang dan sejuk di hiasi rimbunnya pohon kamboja yang saat itu tengah
berbunga lebat. Saat masuk kompleks pemakaman tak lupa kuucapkan salam kepada
ahli kubur, lantas aku pun segera menghampiri pusara eyang yang terletak di
tengah-tengah kompleks makam.

Setelah membersihkan pusara eyang, akupun
duduk bersimpuh di sisi nisan eyang yang mulai lapuk. Kemudian kubacakan surat
Yasin yang kuakhiri dengan doa untuk beliau. Yups… aku merasa berutang banyak
kepada leluhurku, karena tanpa beliau aku tak akan bisa seperti sekarang ini.
Tapi balasan yang bisa aku berikan untuk beliau hanya sebatas mengirimkan doa
supaya beliau mendapatkan tempat terbaik di sisiNya.

Semilir angin yang lembut membuatku mengantuk.
Hmm, aku pun tidur sebentar di samping pusara eyang. Sebuah hal yang biasa aku
lakukan bila ziarah ke tempat eyang. Aku berharap di alam mimpi beliau datang
dan memberi nasehat-nasehat kepadaku seperti dulu saat beliau masih hidup.

Ternyata benar. Dalam mimpi, aku lihat beliau
sedang sholat Shubuh. Setelah selesai, beliau aku hampiri. Dan seperti ketika
masa hidup beliau, tiap bertemu cucunya kalimat-kalimat bernada nasihat selalu
keluar dari mulutnya. Kata-katanya begitu menyejukkan, diselipi dengan
ayat-ayat Qur’an yang begitu fasih dibacakannya. Hingga tanpa sadar (namanya
juga mimpi) aku dan beliau pun sedang membaca surat Ar-Rahman bersama-sama.

Dalam setiap kalimat “fabiayyiaalaai
rabbikumaa tukazzibaan”, beliau selalu mengucapkannya dengan sangat keras di
telingaku. Hingga saking kagetnya akupun terbangun. Masih separuh sadar, aku
duduk menghadap pusara eyang. Dalam hati aku mencoba mengingat-ingat arti dalam
surat Ar-Rahman. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan?”
Kalimat yang dibacakan keras-keras oleh eyang dalam mimpiku seakan
menyadarkanku, bahwa selama ini aku sering lupa. Betapa besar nikmatNya yang
telah aku dustakan, padahal tanpa itu aku ini bukan apa-apa.

Kita lahir didunia mulai dari nol, tanpa baju,
tanpa daya, hanya bisa menangis. Dalam proses hidup kita pun belajar. Dari
tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Setelah itu kita
dihadapkan pada berbagai pilihan hidup, mencari rejeki, mengaktualisasikan
diri, serta berketurunan. Hingga suatu saat kita akan tua. Kulit mulai keriput.
Badan yang dulu segar-bugar sudah mulai lemah. Rambutpun mulai memutih. Dan akhirnya
kita pun kembali di titik nol. Kematian…

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang
engkau dustakan?”

7 hari lagi…

Thursday, May 24th, 2007

Kita kadang lupa untuk menengok kebelakang
tentang perjalanan hidup kita yang lalu. Apa yang kita lakukan dahulu,
lingkungan tempat kita tinggal, serta orang-rang yang pernah berhubungan dengan
kita. Yang pasti, diri kita saat ini adalah hasil akumulasi dari apa yang telah
kita lakukan sebelumnya.

Bung Karno pernah berkata: “jangan pernah
lupakan sejarah”. Kita pun dalam menempuh kehidupan ini tidak boleh lupa
sejarah hidup kita. Sepahit dan semanis apapun kehidupan dan pengalaman masa
lalu kita, ya itulah diri kita. Pengalaman itulah yang membuat kita semakin
sempurna dalam merencanakan sesuatu, dan semakin membuat kita dewasa dalam
menghadapi terjangan gelombang kehidupan. Yups, practise makes perfect….

Selamat untuk Milanisti

Thursday, May 24th, 2007

Bravo Milan!!! Trofi Liga Champions, supremasi
tertinggi kejuaraan antarklub di daratan Eropa kembali jatuh ke tangan AC
Milan. Meskipun harus jatuh bangun di awal kompetisi baik itu domestik (Seri A
dan Copa Italia) maupun luar negeri (Liga Champions) akibat tersangkut skandal calciopoli, namun sekali lagi tim dari
Negeri Pizza mampu menunjukkan ketangguhan dan kematangannya.

Saat semua tim ramai-ramai berbenah menghadapi
ganasnya kompetisi Eropa yang terkenal ketat, beberapa tim di Italia justru
harus dihadapi dilema kasus suap terhadap wasit atau terkenal dengan istilah calciopoli. Termasuk diantaranya AC
Milan yang harus mengawali kompetisi dengan minus 8 poin, serta kehilangan
striker andalannya Andriy Shevchenko yang hengkang ke Chelsea. Secara mental
tim ini benar-benar drop karena kesiapan yang kurang matang. Kesalahan petinggi
manajemen klub harus juga ditanggung pula oleh para pemain, ofisial serta
pelatih yang notabene tidak tahu menahu tentang skandal itu.

Namun sekali lagi AC Milan merupakan sebuah
tim dengan deretan pemain profesional sarat pengalaman serta memiliki pelatih
yang terkenal mampu meramu tim secara sempurna. Di Seri A, AC Milan mampu
bertahan di urutan ke 4. Sebuah hasil yang cukup lumayan bagi tim yang sedang
terpuruk. Namun prestasi di Liga Champion termasuk luar biasa.

“Mesin-mesin tua” AC Milan berusia diatas 30
tahun seperti il capitano Paolo
Maldini, Allessandro Nesta, Giuseppe Favalli, Allessandro Custacurta, Cafu,
Massimo Oddo, Clerence Seedorf, Nelson Dida, Serginho, Marek Jankulovski,
Ronaldo, serta Filippo Inzaghi. Mekipun terkesan sudah lambat dengan stamina
yang tak enerjik, namun teknik bermain dan pengalaman mereka diatas lapangan
menjadi modal tersendiri untuk menghadapi ketatnya persaingan Liga Champions Eropa.

Namun diantara mereka terdapat tenaga-tenaga
muda yang memiliki stamina dan kecepatan yang lebih baik seperti Andrea Pirlo,
Gennaro Gattuso, Massimo Ambrosini, Ricardo Oliveira, Alberto Gilardino serta
si kartu as Ricardo Kaka’. Perpaduan pemain tua dan muda ini masih disentuh
dengan kecekatan tangan sang arsitek tim Carlo Ancelotti.

Hasilnya terlihat jelas di Stadion Olimpic,
Athena. Jutaan pasang mata menjadi saksi ketatnya pertarungan antara AC Milan
versus Liverpool. Kekuatan dan kecepatan permainan Liverpool lewat
gelandang-gelandang Steven Gerrard, Xabi Alonso, Jermaine Pennant, Boudewijn
Zenden, serta Javier Mascherano terlihat jelas mendominasi permainan. Namun
lini belakang AC Milan yang dikordinir kuartet Maldini, Oddo, Jankulovski, dan
Nesta masih mampu meredam serangan The Reds bahkan mematikan gerak striker Dirk
Kuyt. Beberapa tendangan keras pemain Liverpool ke arah gawang Milan masih
mampu di redam oleh Nelson Dida.

Hanya dengan mengandalkan serangan balik, di
ujung babak pertama pelanggaran terhadap Kaka membuahkan tendangan bebas di
depan kotak penalti Liverpool. Tendangan bebas Andrea Pirlo mampu melewati
pagar betis, kemudian mengenai kepala Filippo Inzaghi dan berbelok arah
menembus gawang Pepe Reina. The lucky
goal
dari Super Pippo ini membuat kedudukan 1 – 0 untuk Milan.

Babak kedua permainan kian terbuka, namun pressing yang dilakukan pemain Liverpool
masih belum menggoyahkan possesion
football
dari kuartet lini tengah Milan seperti Seedorf, Pirlo, Ambrosini,
dan Gattuso. Bahkan kembali dari serangan balik, Kaka mampu memberi umpan
matang kepada Inzaghi. “Si raja offside” ini ternyata mampu menghindari jebakan
offside pemain belakang Liverpool dan menggiring bola mendekati gawang Reina.
Inzaghi menunjukkan kematangannya sebagai striker haus gol, dengan melewati
hadangan Reina dan dari sudut sempit mampu meceploskan bola ke gawang. 2 – 0
untuk Milan.

Masuknya Peter Crouch dan Harry Kewell memang
mampu membuat serangan tim asuhan Rafael Benitez ini kian berbahaya. Bahkan di ujung pertandingan lewat
tendangan sudut, sentuhan bola dari kepala Crouch mampu dimanfaatkan Kuyt
menjadi gol. Namun gol ini terlambat mengawali kebangkitan Liverpool seperti 2
tahun lalu di Istambul.

Gelar ke 7 di pentas Liga Champions ini terasa
istimewa bagi Milan. Tentu saja hasil ini menunjukkan professionalitas pemain
Milan meski mereka dilanda skandal calciopoli.
Untuk Liverpool meski menyesakkan, namun you’re
never walk alone
. Itulah semboyan pendukung The Reds untuk tim
kesayangannya. Sekali lagi, selamat untuk milanisti…

9 hari lagi…

Tuesday, May 22nd, 2007

Yach, kenapa semuanya berjalan begitu cepat?
Seiring perputaran waktu, kita pasti akan selalu dihadapkan pada sesuatu yang
baru. Entah itu aktivitas yang baru, teman-teman yang baru, lingkungan yang
baru, serta di ruang dan waktu yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.
Hampir tiap orang yang mengalami hal itu pada awalnya akan mengalami “shock”,
namun proses diri dalam beradaptasi lambat laun akan membuatnya biasa dengan
sesuatu yang baru itu. Yups, itu yang namanya proses hidup.

Tentunya diri kita ini terbentuk dari proses
hidup yang kita lalui itu. Lingkungan dan orang-orang yang ada disekitar kita
memiliki andil besar dalam membentuk karakter diri. Apalagi bila kita tinggal
lama di suatu tempat, hampir pasti karakter yang terbentuk sangat dipengaruhi
oleh komunitas dan lingkungan tempat tinggal kita.

Seperti diriku saat ini. Proses hidup menjadi
pilihan yang musti diambil, namun kali ini harus mengorbankan sebuah zone
nyaman kehidupanku. Meninggalkan kampung halaman, keluarga, serta teman-teman.
Sedih memang. Namun kehidupan ini terus berputar bung… Tak selamanya kita
harus berada di suatu tempat dan lingkungan yang sama. Perubahan menjadi
konsekuensi logis dari proses pencarian dan pencapaian cita-cita. Dan itu pun
harus dihadapi dengan tegar.

Hmmm, tentu saja aku akan selalu rindu dengan
keluarga, bisingnya suara kereta tiap hari, remang-remang lampu Jogja di kala
senja, serta teman-teman yang sudah menjadi bagian hidupku. But, the life
must go on…

demo… demoo…

Wednesday, May 2nd, 2007

Hari Buruh (1 Mei) ama Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), lagi-lagi demo. Ngga di Bandung, ga juga di Jogja… Yang aku liat cuman demo. Apakah penyakit bangsa ini udah kian akut sehingga rakyat makin frustasi…??? Yups, mungkin memang begitu…