Bravo Milan!!! Trofi Liga Champions, supremasi
tertinggi kejuaraan antarklub di daratan Eropa kembali jatuh ke tangan AC
Milan. Meskipun harus jatuh bangun di awal kompetisi baik itu domestik (Seri A
dan Copa Italia) maupun luar negeri (Liga Champions) akibat tersangkut skandal calciopoli, namun sekali lagi tim dari
Negeri Pizza mampu menunjukkan ketangguhan dan kematangannya.
Saat semua tim ramai-ramai berbenah menghadapi
ganasnya kompetisi Eropa yang terkenal ketat, beberapa tim di Italia justru
harus dihadapi dilema kasus suap terhadap wasit atau terkenal dengan istilah calciopoli. Termasuk diantaranya AC
Milan yang harus mengawali kompetisi dengan minus 8 poin, serta kehilangan
striker andalannya Andriy Shevchenko yang hengkang ke Chelsea. Secara mental
tim ini benar-benar drop karena kesiapan yang kurang matang. Kesalahan petinggi
manajemen klub harus juga ditanggung pula oleh para pemain, ofisial serta
pelatih yang notabene tidak tahu menahu tentang skandal itu.
Namun sekali lagi AC Milan merupakan sebuah
tim dengan deretan pemain profesional sarat pengalaman serta memiliki pelatih
yang terkenal mampu meramu tim secara sempurna. Di Seri A, AC Milan mampu
bertahan di urutan ke 4. Sebuah hasil yang cukup lumayan bagi tim yang sedang
terpuruk. Namun prestasi di Liga Champion termasuk luar biasa.
“Mesin-mesin tua” AC Milan berusia diatas 30
tahun seperti il capitano Paolo
Maldini, Allessandro Nesta, Giuseppe Favalli, Allessandro Custacurta, Cafu,
Massimo Oddo, Clerence Seedorf, Nelson Dida, Serginho, Marek Jankulovski,
Ronaldo, serta Filippo Inzaghi. Mekipun terkesan sudah lambat dengan stamina
yang tak enerjik, namun teknik bermain dan pengalaman mereka diatas lapangan
menjadi modal tersendiri untuk menghadapi ketatnya persaingan Liga Champions Eropa.
Namun diantara mereka terdapat tenaga-tenaga
muda yang memiliki stamina dan kecepatan yang lebih baik seperti Andrea Pirlo,
Gennaro Gattuso, Massimo Ambrosini, Ricardo Oliveira, Alberto Gilardino serta
si kartu as Ricardo Kaka’. Perpaduan pemain tua dan muda ini masih disentuh
dengan kecekatan tangan sang arsitek tim Carlo Ancelotti.
Hasilnya terlihat jelas di Stadion Olimpic,
Athena. Jutaan pasang mata menjadi saksi ketatnya pertarungan antara AC Milan
versus Liverpool. Kekuatan dan kecepatan permainan Liverpool lewat
gelandang-gelandang Steven Gerrard, Xabi Alonso, Jermaine Pennant, Boudewijn
Zenden, serta Javier Mascherano terlihat jelas mendominasi permainan. Namun
lini belakang AC Milan yang dikordinir kuartet Maldini, Oddo, Jankulovski, dan
Nesta masih mampu meredam serangan The Reds bahkan mematikan gerak striker Dirk
Kuyt. Beberapa tendangan keras pemain Liverpool ke arah gawang Milan masih
mampu di redam oleh Nelson Dida.
Hanya dengan mengandalkan serangan balik, di
ujung babak pertama pelanggaran terhadap Kaka membuahkan tendangan bebas di
depan kotak penalti Liverpool. Tendangan bebas Andrea Pirlo mampu melewati
pagar betis, kemudian mengenai kepala Filippo Inzaghi dan berbelok arah
menembus gawang Pepe Reina. The lucky
goal dari Super Pippo ini membuat kedudukan 1 – 0 untuk Milan.
Babak kedua permainan kian terbuka, namun pressing yang dilakukan pemain Liverpool
masih belum menggoyahkan possesion
football dari kuartet lini tengah Milan seperti Seedorf, Pirlo, Ambrosini,
dan Gattuso. Bahkan kembali dari serangan balik, Kaka mampu memberi umpan
matang kepada Inzaghi. “Si raja offside” ini ternyata mampu menghindari jebakan
offside pemain belakang Liverpool dan menggiring bola mendekati gawang Reina.
Inzaghi menunjukkan kematangannya sebagai striker haus gol, dengan melewati
hadangan Reina dan dari sudut sempit mampu meceploskan bola ke gawang. 2 – 0
untuk Milan.
Masuknya Peter Crouch dan Harry Kewell memang
mampu membuat serangan tim asuhan Rafael Benitez ini kian berbahaya. Bahkan di ujung pertandingan lewat
tendangan sudut, sentuhan bola dari kepala Crouch mampu dimanfaatkan Kuyt
menjadi gol. Namun gol ini terlambat mengawali kebangkitan Liverpool seperti 2
tahun lalu di Istambul.
Gelar ke 7 di pentas Liga Champions ini terasa
istimewa bagi Milan. Tentu saja hasil ini menunjukkan professionalitas pemain
Milan meski mereka dilanda skandal calciopoli.
Untuk Liverpool meski menyesakkan, namun you’re
never walk alone. Itulah semboyan pendukung The Reds untuk tim
kesayangannya. Sekali lagi, selamat untuk milanisti…