Bergelut dengan Berkas
Monday, March 31st, 2008Tiap akhir bulan, apalagi kalau pas jatuh di triwulanan, menjadi hari-hari paling berat di bidang keuangan kantorku. Tagihan-tagihan yang numpuk, masih ditambah gelombang posting limpahan dari SDM dan Konstruksi/Enjineering yang masih harus di_release supaya bisa di posting bayar, ditambah mem_planning cash flow yang masih kacau balau gara-gara membengkaknya Pos 52 dan 54. Aduduh… bikin ruwet kepala…
Mejaku pun penuh dengan berkas. Sampai2 aku sering lupa berkas mana yang harus diproses duluan. Tapi memang beginilah atmosfir kerja di bagian keuangan. Tugas harian yang sudah menumpuk, akan kian menumpuk bila kita ditugaskan dinas di luar kota. Yups, itu terjadi minggu lalu. Laporan pajak terpusat di Jakarta yang memakan waktu 3 hari sudah menguras segenap pikiran dan tenaga. Ketika aku tiba kembali di kantor, tumpukan berkas menggunung yang seakan-akan "merengek" minta segera diproses pun sudah menunggu. Tugas harian juga menumpuk: postingan ERP yang bikin pusing kepala, hitungan-hitungan pajak yang kadang ngawur, plus tagihan hasil tender proyek percepatan pembangunan SUTET Pati-Rembang yang minta segera dibayar uang mukanya. Wheleh… wheleh…muka saya jadi makin mirip berkas.
"Sabar ya boss… sebentar lagi postingan selesai. Setelah itu Anda tinggal teken bukti & kuitansi, terus saya telpon bank untuk mempersiapkan pencairan bilyet gironya, telpon rekanan kalo bilyet bisa dicairkan, dan akhirnya terbayar lunas…nas…naaaasss…Beres…"