Kartini-Kartini Sepanjang 100 km

Perjalanan panjangku dari Yogyakarta menuju kota Ungaran sejauh 100 km pagi tadi, memberikan kesan yang cukup mendalam. Memang, hampir tiap satu minggu sekali aku melakukan perjalanan ini. Berangkat dari terminal Jombor pukul 5 pagi, baru sampai Ungaran pukul 07.15. Dan sepanjang perjalanan aku pun lebih sering tak sadarkan diri karena rasa kantuk yang amat sangat setiap melakukan perjalanan pagi tersebut. Hanya tiba2 saja aku sudah dibangunkan oleh pak kernet (yang memang sudah tahu kebiasaanku ini) bila bus sudah hampir tiba di tujuanku, GITET Ungaran.
Namun pagi tadi, entah kenapa mataku sulit terpejam. Padahal semalam aku tidur larut malam setelah menonton film Dante’s Peak (untuk ke empat kalinya) dan menemani ibu nonton kuis yang tiba-tiba bisa membuat seseorang menjadi milyarder, Deal or No Deal (meskipun hingga kini tak ada yang mampu memenangkan Rp 2 M hadiah utama tersebut).
Yups, dari Terminal Jombor bus lumayan penuh. Hampir semua tempat duduk terisi. Tinggal menyisakan beberapa saja. Hingga melewati Tempel, serombongan ibu-ibu berseragam PNS naik bus tersebut. Beberapa diantara mereka berdiri. Aku tawarkan tempat dudukku untuk salah satu diantara mereka. Maklum, aku hampir saja merasa bosan duduk. Sebagian besar waktuku tiap hari aku habiskan di tempat duduk serta di depan komputer. Aku mulai khawatir terkena penyakit ambeien dan mata minusku yang terus membesar.
Ibu-ibu tersebut sebagian besar turun di Muntilan. Sebagian lagi turun di Magelang. Tempat kerja nun jauh sudah biasa mereka tembuh setiap hari. Sebagai wanita karier sekaligus ibu rumah tangga. Semoga karier mereka tak membuat suami dan anak-anak mereka tercampakkan dalam urusan sarapan pagi. Atau mungkin mereka sudah punya pembantu?? Akh, aku tak peduli…
Dari terminal Magelang, aku kembali bisa duduk. Kali ini posisiku terpojok disamping wanita muda (lumayan manis menurutku…) yang menggendong bayi yang mungkin usianya baru 6 bulanan, seusia keponakanku. Di sepanjang jalan Magelang - Secang, banyak penumpang  yang naik. Tempat duduk pun telah habis. Namun penumpang tak henti-hentinya terus bertambah. Sebagian besar mereka wanita-wanita muda berseragam biru muda biru tua, terpaksa berdiri berdesak-desakkan. Setahuku, mereka para buruh kontrak di pabrik-pabrik sepanjang jalan besar Semarang-Jogja/Solo. Kasihan sekali. Andai posisiku tak terpojok, ingin sekali aku tawarkan lagi tempat dudukku untuk mereka. Yah, bagaimana lagi…?
Jalan yang berkelak kelok ditambah kecepatan bus yang lumayan kencang membuat penumpang yang berdiri terpental kesamping, kekanan, kedepan, dan kadang kebelakang. Tangan-tangan lemah mereka seringkali tak mampu menahan tubuh mereka sendiri. Wanita diciptakan sebagai makhluk yang tidak sekuat laki-laki. Tapi mereka hebat. Sembilan bulan membawa beban, kemudian menggendong selama hampir sekian tahun, hingga putra-putri mereka dewasa. Bisa disimpulkan bahwa mereka lebih kuat dari laki-laki…
Tiba-tiba bayi dalam gendongan wanita muda disampingku menangis keras. Guncangan-guncangan bus, pasti telah membangunkan tidur lelapnya. Sang ibu pun berusaha menenangkan si buah hatinya. Sayang, usahanya sia-sia. Akhirnya, dia tak punya pilihan. Dikeluarkan senjata pamungkasnya. Salah satu "penghasil air kehidupan" bagi manusia di dunia ini, dari sepasang yang dimilikinya pun ia relakan menjadi santapan sang bayi. Secara visual, santapan pula bagi semua penumpang bus. Termasuk aku…
Bujangan kesepian ini terpaksa menanggung perasaan salah tingkah nan hebat. Aku berusaha selalu mengalihkan perhatianku ke luar untuk menikmati pemadangan. Tapi tak jarang aku mencuri-curi pandang. Ah, dasar mata kadal. Tak mampu menahan diri untuk tidak melihat pemandangan yang sebenarnya begitu manusiawi.
Setelah melewati terminal Bawen, banyak para pegawai pabrik yang turun. Wanita-wanita berseragam biru itu akan memulai memeras keringat sebagai buruh kontrak di pabrik garmen, tekstil, minuman botol, roti, dan lain sebagainya. Dan menjelang sore, mereka pun pulang. Begitulah sehari-hari yang mereka lakukan, demi upah yang setiap waktu terus tergencet dengan tingginya harga kebutuhan pokok saat ini. Belum lagi bila mereka terlambat dibayar.
Dan tepat di depan pabrik roti Nissin, dimana GITET Ungaran berada, akupun turun. Sejenak aku hirup udara pagi yang sudah tercampur polusi. Hummm… kembali bau biskuit yang membuatku seringkali mual. Dan pagi itu akan dimulailah hari yang melelahkan bagi ku…
Selamat hari kartini buat wanita-wanita Indonesia….

Leave a Reply