Selamat Hari Buruh
Yoah.. Ironisme nasib buruh di Indonesia masih berlangsung. Eksploitasi tenaga (dan pikiran tentunya) masih sering dijumpai dengan tidak meng_include_kan perbaikan nasib, upah, serta kesejahteraan. Sebagian besar buruh (terutama buruh kontrak) tak jelas nasib dan masa depannya.
Industrialisasi di Indonesia membuat sebagian masyarakat bangsa ini beralih profesi. Kawasan-kawasan industri dibangun, orang-orang desa pun berbondong-bondong mencari nafkah disana. Iming-iming status sebagai buruh upahan, tampaknya lebih menarik daripada profesi nenek moyang, petani. Pacul dan caping pun ditinggalkan, tanah-tanah sawah mulai kehilangan sentuhan tangan-tangan muda pewarisnya.
Dengan bekal ketrampilan seadanya, tentu upah yang diterima juga seadanya. Dengan sistem kontrak, secara sepihak mereka rawan PHK. Tak jarang pula upah serta pesangon tak diberikan. Itulah kejamnya industrialisasi.
Saya hidup di kawasan industri. Ada pabrik roti, garmen, minuman, tekstil, tahu, hingga rokok. Saya pun tinggal satu kos bersama para buruh pabrik-pabrik tersebut. Dan tiap hari, silih berganti orang-orang baru bermunculan mengadu nasib sebagai buruh di pabrik.
Saya juga merasa diri ini berprofesi sebagai buruh. Hanya nasib lebih baik. Upah tak pernah telat, kesejahteraan terjamin, dan masa depan lumayan jelas. Melihat rekan-rekan buruh yang lain, hati kian miris. Banyak cerita haru keluar dari mulut mereka. Telingaku aku sediakan sebagai tempat curahan perasaan, dan hatiku aku bagi untuk ikut menanggung berbagai permasalahan mereka.
Undescription, itulah ungkapan yang bisa aku katakan. Terlalu banyak persoalan, terlalu komplek problematika, terlalu sering penghianatan, dan terlalu perih kehidupan rekan-rekanku para buruh. Tapi aku yakin, dengan perjuangan kalian matahari tak akan pernah redup. Dan nyanyian-nyanyian alam akan terus mengumandangkan syair pujian untuk tiap tetes keringat, darah, dan air mata. Selamat hari buruh kawan…